SENJA LANSIA: Saat Rumah Sakit Belajar Menjadi Lebih Manusiawi

Spread the love

Ada satu cerita menarik di RSUD Jatisari. Cerita tentang bagaimana sebuah rumah sakit—yang biasanya identik dengan alat medis, formulir, dan suara tut-tut-tut mesin monitor pasien—mulai belajar memandang manusia bukan hanya sebagai pasien, tetapi sebagai sosok yang punya rasa takut, butuh pegangan, butuh tempat duduk yang nyaman, dan butuh ruang yang membuat mereka merasa dihargai. Cerita itu bernama SENJA LANSIA, inovasi yang digerakkan oleh Kabid SDM & Sarpras, H. Ucin Supriyadi, SKM, MAP.

Cerita ini dimulai dari pemandangan yang sering kita lihat tetapi jarang kita pikirkan. Seorang lansia berjalan pelan di koridor rumah sakit. Tangannya mencari sesuatu untuk digenggam, matanya sibuk menakar jarak, kakinya berhenti setiap beberapa langkah. Tidak ada keluhan keras, tapi ada kecemasan halus yang terlihat jelas. Dari situ muncul pertanyaan sederhana: “Kenapa perjalanan 10 meter bisa terlihat seperti perjalanan satu kilometer bagi mereka?”

Di titik itulah SENJA LANSIA mulai mengambil bentuk. Bukan sebagai proyek besar yang ribut anggaran, tapi sebagai rangkaian keputusan kecil yang lahir dari empati. Bukan perubahan yang dipamerkan lewat seremoni, tapi perubahan yang terasa lewat pengalaman lansia saat datang berobat.

Tangan-tangan yang dulu mencari pegangan, kini menemukan handrail yang kokoh di sepanjang koridor dan kamar mandi. Besi sederhana itu mungkin tidak mewah, tapi bagi lansia, itu teman seperjalanan. Pendamping diam yang menjaga langkah mereka tetap stabil.

Lantai yang dulu membuat petugas was-was setiap kali hujan atau ada tumpahan kini berubah menjadi anti-slip, membuat langkah lansia lebih percaya diri. Kursi-kursi tunggu yang dulu keras dan rendah, kini diganti menjadi kursi ergonomis yang memudahkan mereka duduk dan berdiri tanpa harus meringis menahan nyeri lutut.

Kursi roda yang dulu tersimpan di ruangan dan sering “dicari-cari”, kini ditempatkan di titik strategis. Tidak ada lagi drama menunggu. Tidak ada lagi keluarga yang kebingungan. Semuanya hadir ketika dibutuhkan, seolah berkata: “Kami sudah siap, tinggal kamu tenang saja.”

Menariknya, inovasi ini bukan hasil dari anggaran tambahan atau program baru yang rumit. Tidak ada gegap gempita proposal besar. Semuanya lahir dari optimalisasi. Dari kemampuan melihat bahwa perubahan itu tidak selalu butuh biaya besar—kadang hanya butuh niat besar.

Di balik perubahan itu, ada wajah-wajah ASN PNS, tenaga kesehatan, petugas sarpras, dan staf yang bekerja diam-diam. Mereka bukan hanya mengeksekusi perintah; mereka merawat niat baik agar benar-benar menjadi kenyataan. H. Ucin memulai bukan dengan pidato panjang, tetapi dengan cara menggerakkan orang-orangnya untuk melihat lansia seperti mereka melihat orang tua sendiri.

Lama-lama, perubahan itu terasa. Lansia yang biasanya butuh pendamping kini lebih mandiri. Petugas yang biasanya bolak-balik membantu kini bisa fokus pada hal lain. Alur layanan menjadi lebih ringan. Dan rumah sakit… pelan-pelan, berubah menjadi tempat yang lebih hangat.

Di setiap sudut perubahan itu, ada pesan yang terasa kuat: inovasi tidak selalu soal teknologi tinggi. Inovasi bisa sesederhana membuat seseorang merasa lebih aman. Bisa sesederhana membantu seseorang melangkah tanpa takut jatuh. Bisa sesederhana membuat rumah sakit terasa tidak menakutkan bagi mereka yang rapuh.

SENJA LANSIA bukan hanya program. Ia adalah cermin. Cermin bahwa rumah sakit bisa belajar menjadi lebih manusiawi. Cermin bahwa pelayanan publik bisa menyentuh hati tanpa harus menunggu anggaran besar. Cermin bahwa seseorang yang sering berjalan pelan dengan punggung membungkuk tetap layak mendapat ruang yang memuliakan mereka.

Dan mungkin, di balik semua itu, ada pelajaran yang lebih lembut: bahwa senja tidak selalu berarti melemah. Senja bisa menjadi indah—asal ada tangan-tangan peduli yang memastikan cahaya terakhir hari itu tetap hangat.

RSUD Jatisari memilih untuk melakukan itu.
Melalui SENJA LANSIA.
Melalui manusia yang memanusiakan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *