SIAPAKAH GURU SEBENARNYA? REFLEKSI DI HARI GURU

Kalau ngomongin “guru”, kebanyakan orang langsung kebayang papan tulis, spidol hampir kering, suara lembut (atau galak), dan buku absen yang selalu aja bikin deg-degan. Padahal, kalau kita kupas secara akademik dan secara hidup sehari-hari, istilah “guru” itu jauh lebih luas daripada sekadar orang yang ngajar di kelas.
Di sekolah dulu kita diajarin singkatan yang melegenda: GU=diGUgu, RU=diRU—artinya guru adalah sosok yang bisa dipercaya dan layak ditiru. Menariknya, makna ini melebar jauh di luar profesi formal. Dalam ilmu pendidikan, guru didefinisikan sebagai “agen pembelajaran” (Tilaar, 2012), tapi dalam kehidupan sosial, guru juga bisa berarti “siapa pun yang memberi kita wawasan baru dan memengaruhi cara kita memandang dunia” (Bandura, 1997).
Jadi kalau pakai kacamata akademik, guru itu bukan hanya posisi, tapi fungsi. Dan fungsi itu bisa hadir dalam berbagai wujud.
Orang tua misalnya, adalah guru paling pertama yang kita punya. Dari merekalah kita belajar bicara, berjalan, mengenali emosi, sampai cara menghadapi dunia. Dalam psikologi perkembangan, orang tua disebut sebagai primary educator—pendidik utama sebelum institusi mana pun masuk (Bronfenbrenner, 1995). Jadi sebenarnya sebelum kita ketemu guru SD, kita sudah sekolah di “universitas rumah”.
Lalu ada suami atau istri. Tanpa disadari, pasangan itu guru kehidupan yang ngajarin kita seni kompromi, seni sabar, seni memahami, dan seni bertahan menghadapi drama sehari-hari. Teman juga guru, karena seringkali mereka ngajarin kita batas, keberanian, dan kejujuran yang nggak tertulis di buku mana pun. Bahkan anak bisa jadi guru—mereka ngingetin kita bahwa dunia kadang harus dilihat dari ketinggian 120 cm supaya terasa lebih sederhana.
Staf atau rekan kerja pun guru. Ada yang ngajarin profesionalitas lewat ketelatenan, ada yang ngajarin ketegasan, ada yang ngajarin cara nge-handle masalah rumit dengan kepala dingin, dan ada juga yang secara tidak langsung ngajarin kita… cara bersabar menghadapi kelakuan orang. Lengkap, kan?
Dan yang paling jujur: pengalaman. Dia adalah guru yang paling keras, paling disiplin, tapi paling efektif. Pengalaman nggak pernah ngasih kisi-kisi, tapi selalu ngasih hasil akhir. Kadang lewat keberhasilan, kadang lewat jatuh bangun yang bikin kita mikir, “Oh… jadi gitu maksudnya hidup.”
Maka muncul pertanyaan: siapakah guru?
Guru adalah siapa pun yang mengubah cara kita memandang hidup, menambah pengetahuan, atau membentuk karakter kita—baik lewat kata, sikap, maupun pengalaman.
Pertanyaan kedua: haruskah guru tercipta dari akademisi?
Jawabannya: tidak. Pendidikan formal melahirkan guru formal. Tapi kehidupan melahirkan guru nonformal—dan jumlahnya jauh lebih banyak. Dalam literatur pendidikan kritis, belajar disebut sebagai proses sosial yang berlangsung sepanjang hidup (Freire, 1970). Artinya, siapa pun berpotensi jadi guru, selama ia memberi pelajaran.
Pertanyaan ketiga: apa bentuk guru?
Bentuknya bisa banyak sekali:
• manusia yang mengajarkan nilai
• pengalaman yang mengajarkan keteguhan
• kegagalan yang mengajarkan strategi
• lingkungan yang mengajarkan adaptasi
• bahkan tantangan yang mengajarkan keberanian
Guru tidak selalu punya gelar, seragam, atau papan tulis. Kadang guru hadir sebagai orang yang membuat kita tersadar. Kadang hadir sebagai momen yang membuat kita berubah.
Jadi di Hari Guru ini, mari kita hormati para guru formal—karena tanpa mereka, fondasi pengetahuan kita nggak akan berdiri. Tapi mari juga kita hormati guru-guru kehidupan yang hadir dalam wujud paling sederhana: keluarga, sahabat, pasangan, staf, dan pengalaman yang membentuk kita sampai hari ini.
Karena pada akhirnya, guru adalah siapa pun yang membuat kita menjadi versi diri yang lebih baik.










