GURU HEBAT, INDONESIA KUAT: REFLEKSI KENAPA HARI GURU ITU SELALU BIKIN KITA AGAK SENTIMENTAL

Setiap 25 November, selalu ada momen kecil yang bikin kita berhenti sebentar dari kehebohan hidup: Hari Guru Nasional. Entah kenapa, hari ini tuh punya energi aneh—kayak tombol “recall memory” yang otomatis ngingetin kita sama masa-masa jadi murid. Dan lucunya, sebagian dari kita mungkin dulu bandel, ngantukan, atau sering pulang tanpa PR selesai… tapi tetap aja, ada guru tertentu yang nyangkut di kepala.
Kalau dipikir akademik, guru itu nggak cuma aktor pendidikan; mereka adalah organ reproduksi peradaban. Merekalah yang bikin pengetahuan bisa diwariskan lintas generasi. Bahkan UNESCO menyebut guru sebagai “pilar kualitas human capital” (UNESCO, 2020). Jadi kalau ada yang bilang guru itu pekerjaan mulia, itu bukan kalimat puitis—itu statistik sosial.
Refleksi ini makin kerasa waktu ngeliat visual ucapan resmi dari RSUD Jatisari bersama Bupati Aep dan Wakil Bupati Maslani. Ada pesan yang : dunia kesehatan pun ngaku, nggak mungkin berdiri tanpa guru. Dokter, perawat, analis, radiografer, bidan—semuanya lahir dari ruang kelas. Dari seseorang yang sabar nerangin hal yang sama berkali-kali sampai otak kita nge-klik. Dari seseorang yang percaya kita bisa, bahkan saat kita nggak percaya diri sendiri.
Yang menarik, profesi guru itu punya paradoks. Di satu sisi, mereka harus punya pengetahuan setingkat ilmuwan, kesabaran setingkat malaikat, kreativitas setingkat konten kreator, dan empati setingkat konselor. Tapi di sisi lain, banyak yang masih memandang guru itu “kerjaannya ngajar doang”. Padahal ngajar itu cuma 20% dari beban kerjanya. Sisanya? Administrasi, penilaian, konseling, mediasi konflik murid, sampai jadi role model moral yang kadang beratnya kayak bawa dunia di pundak.
Soal akademik, riset bilang bahwa guru punya pengaruh terbesar kedua terhadap kesuksesan akademik anak—setelah lingkungan keluarga (Hattie, 2013). Jadi kalau lo hari ini bisa ngetik, kerja, reasoning, atau sekadar optimis, kemungkinan besar itu hasil investasi mental seseorang di masa lalu yang percaya sama potensi lo.
Tapi mari jujur: kita baru sadar betapa berharganya guru ketika sudah dewasa. Waktu sekolah dulu, yang kita inget mungkin cuma PR, remedial, disuruh maju ke depan kelas, atau diingetin buat jangan ngomong sendiri. Begitu gede, barulah kita sadar bahwa guru itu sebenarnya profesi yang sering bekerja dalam sunyi. Mereka nggak pernah nuntut balasan. Yang mereka pengen cuma satu: muridnya jadi orang.
Refleksi ini juga relevan buat Karawang. Saat banyak sekolah menghadapi isu bullying, tekanan belajar, dan perubahan budaya digital, peran guru jadi makin kompleks. Mereka bukan hanya pengajar, tapi pengarah karakter. Mereka bukan hanya penyaji materi, tapi penjaga ruang aman bagi anak-anak. Dan di titik itu, kolaborasi lintas sektor—pemerintah, kesehatan, pendidikan—jadi satu paket besar yang nggak boleh dipisah.
Yang bikin ini lucu tapi dalam adalah: nggak ada satu pun dari kita yang lahir langsung jago. Semua dari fase “nggak tau apa-apa”. Guru yang ngasih kerangka awal buat kita ngerti dunia. Tanpa mereka, rumus nggak akan punya makna. Etika nggak akan punya arah. Logika nggak akan punya fondasi.
Jadi pas liat ucapan selamat Hari Guru Nasional dari RSUD Jatisari dan Pemerintah Karawang, gue ngerasa itu bukan sekadar postingan formalitas. Itu pengakuan bahwa pembangunan daerah nggak mungkin jalan kalau fondasi pendidikannya rapuh. Guru itu bukan pelengkap sistem—mereka adalah sistem itu sendiri.
Dan kalau lo merasa hari ini hidup lo lumayan baik-baik aja, ada kemungkinan besar perjalanan itu dimulai dari seseorang yang pernah berdiri di depan papan tulis, nulis rumus, gambar diagram, atau sekadar bilang: “Kamu pasti bisa.”
Karena pada akhirnya, guru adalah orang yang pekerjaannya membentuk masa depan orang lain. Dan itu pekerjaan yang nggak semua orang sanggup lakukan.










