UMUR NAIK, JANTUNG MULAI PROTES: KENAPA BEGITU, DAN BAGAIMANAN HARUS NYIASATIN?

Lo pernah nggak, lagi duduk santai, terus mikir: “Kayaknya makin tua, badan makin banyak drama ya?” Tenang, lo nggak lebay. Secara biologis, tubuh memang berubah pelan-pelan, termasuk si motor utama hidup lo: jantung. Dan kalau lo ngerasa jantung makin “rewel”, itu bukan sugesti—itu sains yang bicara (Lakatta, 2003).
Semakin bertambah umur, pembuluh darah lo mulai kehilangan elastisitasnya. Dulu dia lentur kayak karet baru, tapi makin tua dia jadi kayak karet gelang yang sudah dipakai buat ngiket beras lima kali. Kaku. Efeknya? Tekanan darah naik dan kerja jantung makin berat, karena dia harus memompa lebih keras buat ngedorong darah ke seluruh tubuh (North & Sinclair, 2012). Jadi wajar kalau tenaga lo udah nggak kayak zaman masih kuliah dulu.
Yang bikin tambah menarik, proses penuaan juga bikin lapisan pembuluh darah gampang rusak. Sel-sel di dinding pembuluh lebih gampang iritasi, dan lemak lebih gampang nempel. Hasil akhirnya? Timbunan plak alias aterosklerosis. Lo nggak akan ngerasain apa-apa di awal, tapi lama-lama pembuluh lo mengecil dan aliran darah ke jantung bisa tersendat. Makanya risiko serangan jantung naik signifikan setelah umur 40–50 (Benjamin, 2019).
Selain faktor biologis, ada juga faktor gaya hidup yang “diam-diam” ikut nambahin risiko. Lo tau sendiri, umur boleh naik, tapi kebiasaan nggak semua ikut dewasa. Makan gorengan tiap sore, duduk seharian di kantor, begadang nonton drama, atau stres mikirin hal-hal yang sebenarnya nggak perlu. Semua itu memicu inflamasi kronis yang berdampak langsung ke pembuluh darah dan metabolisme jantung (Libby, 2021). Jadi bukan cuma umur, tapi paket lengkap gaya hidup yang bikin jantung makin gampang drama.
Dari sisi hormon, cerita makin seru. Tubuh lo punya hormon pelindung yang makin menurun seiring usia, kayak estrogen pada perempuan atau testosteron pada laki-laki. Penurunan hormon ini bikin metabolisme kacau, kolesterol naik lebih gampang, dan sensitivitas insulin menurun (Gidding, 2014). Efek domino ini bikin risiko penyakit jantung makin besar tanpa lo sadari. Umur nambah, hormon turun, risiko naik. Itu bukan mitos, itu fisiologi.
Hal lain yang sering dilupakan adalah perubahan cara tubuh merespons stres. Semakin tua, respons stres jadi lebih kuat dan lebih lama pulihnya, karena regulasi sistem saraf otonom makin nggak seimbang (Seeman, 2010). Jadi ketika lo kesel dikit atau ketemu masalah kecil, tubuh lo memproduksi hormon stres lebih tinggi dibanding waktu muda. Hormon stres itu bikin pembuluh darah menyempit dan tekanan darah naik. Ini alasan kenapa di usia 40–50, banyak orang tiba-tiba kena hipertensi “dadakan”.
Dan jangan lupakan faktor mental. Banyak orang makin tua tapi makin banyak menyangkal realita perubahan tubuhnya. “Ah gue masih kuat lah,” padahal naik tangga dua lantai aja udah ngos-ngosan kayak abis lari maraton. Denial ini sebenarnya bahaya, karena orang jadi cuek terhadap tanda awal penyakit jantung seperti cepat lelah, nyeri dada ringan, atau napas pendek (Hennekens, 2018). Kadang bukan karena nggak tau, tapi nggak mau tau.
Tapi bukan berarti semua ini doom and gloom. Justru ketika lo ngerti mekanismenya, lo bisa lebih pinter ngatur strategi. Sains nunjukin bahwa olahraga ringan yang konsisten bisa nurunin risiko penyakit jantung sampai lebih dari separuh—even pada orang di atas 60 (Blair, 2012). Jalan kaki 30 menit aja udah cukup buat bikin pembuluh darah lo lebih lentur dan tekanan darah stabil. Lo nggak harus jadi atlet, cukup jadi manusia aktif.
Dari sisi nutrisi, makanannya juga nggak harus fancy. Kurangi lemak trans, gorengan, gula berlebih—itu udah bikin pembuluh darah lo jauh lebih bahagia. Sayur, buah, ikan, kacang-kacangan itu bukan cuma makanan sehat, tapi anti inflamasi alami yang ngejaga pembuluh darah tetap bersih (Estruch, 2013). Lo bisa tetap makan enak tanpa bikin jantung kerja lembur.
Ngatur stres juga penting banget. Lo mungkin nggak bisa berhenti dari pekerjaan, tapi lo bisa atur cara ngerespons hidup. Meditasi, tidur cukup, deep breathing, atau sekadar mikir pelan sebelum ngomel itu berdampak langsung ke jantung. Tubuh yang tenang bikin pembuluh darah ikut relaks (Brosschot, 2016). Ini ilmu, bukan motivasi murahan.
Satu hal lagi yang sering dihindari adalah pemeriksaan rutin. Makin tua, makin penting lo tau kondisi metabolik lo sendiri: tekanan darah, kolesterol, gula darah, fungsi ginjal. Penyakit jantung itu licik—sering muncul diam-diam. Pemeriksaan rutin ibarat lampu indikator: dia kasih tau sebelum mesin meledak. Bahkan guideline internasional menyarankan skrining jantung mulai usia 40 meski tanpa gejala (Grundy, 2019).
Pada akhirnya, jantung itu jujur. Dia nggak pernah marah tanpa alasan. Kalau dia mulai kasih sinyal, itu karena dia udah kerja keras banget buat lo bertahun-tahun. Dan umur yang nambah bukan alasan buat pasrah; justru alasan buat jadi lebih bijak. Risiko penyakit jantung memang naik seiring usia—itu fakta ilmiah. Tapi cara lo merespons risiko itu menentukan apakah lo akan tetap tangguh atau justru tumbang terlalu cepat.
Lo nggak bisa menghentikan umur, tapi lo bisa mengatur gaya hidup. Jantung cuma minta satu hal: jangan disiksa. Biar dia bisa nemenin lo lebih lama, lebih kuat, dan lebih waras menghadapi dunia yang makin absurd.










