PLAT MERAH vs PRIVAT: KETIKA DUA RUMAH SAKIT TETANGGAAN BERKOLABORASI

Spread the love

Coba bayangin dua rumah sakit yang lokasinya cuma beda beberapa tikungan di Jatisari. Yang satu RSUD Jatisari—plat merah, tumpuan masyarakat, pusat rujukan pelayanan publik, denyut nadi pelayanan kesehatan daerah. Yang satu lagi RSU Sentral Medika—swasta, gesit, modern, lincah mengambil keputusan dan adaptif terhadap teknologi baru. Dua-duanya hidup berdampingan, kayak dua rumah tetangga yang tiap hari saling lihat atap tapi jarang ngobrol panjang.

Dari luar, orang sering mikir dua institusi ini kayak dua kutub: yang satu birokratis, yang satu komersial; yang satu fokus pelayanan publik, yang satu fokus efisiensi dan mutu layanan premium. Tapi di balik semua perbedaan itu, ada satu hal yang sama: dua-duanya ngadepin tantangan pelayanan kesehatan yang makin kompleks tiap tahun.

Dan pelan-pelan, tanpa heboh, muncul kesadaran baru: dua RS tetanggaan ini sebenarnya bisa saling menguatkan.

Dalam teori sistem kesehatan modern, kolaborasi fasilitas layanan sangat penting untuk membangun network of care—jejaring layanan yang saling terhubung dalam rujukan, komunikasi klinis, dan saling dukung kapasitas (Frenk, 2010). RSUD Jatisari punya kekuatan sebagai fasilitas pelayanan publik dengan kapasitas IGD, rawat inap, dan akses JKN yang besar. RSU Sentral Medika punya fleksibilitas layanan cepat, fasilitas diagnostik, dan efisiensi operasional yang jarang bisa ditandingi plat merah (Bloom, 2014). Ketika dua model ini bertemu, lahir ekosistem layanan yang jauh lebih kuat.

Di lapangan, kebutuhan kolaborasi itu makin kerasa. Pasien emergensi butuh penanganan cepat, ruang rawat sering penuh, alat diagnostik tertentu mungkin sedang rusak atau terbatas, dokter subspesialis tidak selalu tersedia 24 jam. Dengan adanya komunikasi langsung antara RSUD Jatisari dan RSU Sentral Medika, kasus-kasus seperti ini lebih gampang ditangani. Pasien yang butuh alur cepat bisa diarahkan dengan informasi yang jelas, sementara kasus-kasus yang butuh backup layanan bisa ditangani tanpa drama “muter-muter cari RS yang ada kamar.”

Kolaborasi begini bukan cuma soal rujuk-merujuk. Banyak dokter praktik di dua tempat, banyak kegiatan ilmiah yang bisa digelar bareng, banyak pelatihan tenaga kesehatan yang bisa saling mengisi. Studi kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa kolaborasi lintas fasilitas meningkatkan kecepatan penanganan, mengurangi rujukan tidak efektif, dan meningkatkan mutu layanan secara keseluruhan (Mangione-Smith, 2017). Jadi, bukan cuma rumor manis—ini benar-benar berdampak.

Tentu, dua dunia ini punya kultur berbeda. RSUD Jatisari punya tanggung jawab pelayanan publik dan struktur birokrasi yang jelas. RSU Sentral Medika punya kultur adaptif dan efisiensi yang tinggi. Kadang perbedaan ini bikin friksi kecil: beda standar kerja, beda alur administrasi, beda ritme. Tapi justru perbedaan itu yang bikin kolaborasi menarik. Karena ketika dua hal yang berbeda saling mengisi, hasilnya sering lebih kuat dibanding kalau dua-duanya sama.

Dari sisi masyarakat, kolaborasi ini bukan cuma kabar baik—ini penyelamat. Pasien tidak lagi merasa terjebak ketika satu RS penuh atau sedang tinggi beban kerja. Mereka tahu ada jejaring yang bekerja diam-diam untuk memastikan mereka ditangani dengan cepat, tepat, dan manusiawi. Mereka nggak peduli RS-nya plat merah atau privat. Yang mereka peduli hanya satu: “Saya bisa ditolong atau tidak?”

Dan di momen ketika RSUD Jatisari dan RSU Sentral Medika akhirnya mulai membuka pintu komunikasi, sinkronisasi layanan, dan koordinasi kasus, yang tercipta bukan persaingan, tapi ekosistem kesehatan yang lebih aman bagi semua orang. Ini bukan tanda bahwa salah satu lebih unggul. Ini tanda bahwa dua-duanya sudah dewasa dalam melihat realitas pelayanan kesehatan hari ini.

Karena di dunia kesehatan, yang penting bukan siapa yang paling besar atau paling modern. Yang penting siapa yang siap bekerja sama demi keselamatan nyawa orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *