Moody: Normal atau Gue Aja yang Aneh?

Spread the love

Ada hari-hari ketika lo bangun dengan perasaan kayak… “hmm, hari ini kita sedih aja dulu ya?” Terus dua jam kemudian lo ketawa gara-gara liat kucing nyangkut di kardus. Sorenya, tiba-tiba kesel cuma karena ada orang ngunyah terlalu bersemangat di sebelah lo. Dan lo pun bertanya-tanya: “Gue moody banget. Ini normal nggak sih?”

Jawaban singkatnya: normal kok, bestie. 100% manusiawi.
Jawaban panjangnya? Yuk kita kulik.

Dalam dunia psikologi, perubahan mood kecil sepanjang hari itu hal rutin, sama kayak detak jantung yang naik turun tergantung situasi (Thayer, 1996). Otak kita punya sistem pengatur emosi yang bekerja kayak AC otomatis—kadang adem, kadang tiba-tiba panas, semua tergantung kondisi lingkungan dan dalam diri. Jadi kalau mood lo berubah-ubah, berarti sistem lo lagi bekerja normal.

Yang bikin kita sering salah paham adalah budaya yang ngejual konsep bahwa manusia harus stabil 24/7. Padahal stabil terus itu justru bukan ciri manusia, tapi… lemari es. Peneliti emosi bahkan bilang bahwa fluktuasi mood kecil justru sehat karena itu tanda otak lo responsif terhadap perubahan (Gross, 2014). Bayangin kalau lo datar terus—itu justru bikin hidup kayak film dokumenter tanpa musik latar.

Faktor biologis juga ikut campur. Kurang tidur satu jam aja bisa bikin mood jungkir balik (Walker, 2017). Gula darah turun? Tiba-tiba sensitif. Cuaca mendung? Otak ngirim sinyal mellow. Dan jangan lupa hormon—si kecil licik yang bisa ngubah mood cuma dalam hitungan menit.

Moody juga bisa muncul karena micro-stressors, yaitu stres kecil yang numpuk: chat yang belum dibalas, kerjaan yang numpuk, tubuh capek tapi mikir “gue baik-baik aja”. Studi menunjukkan kalau stres mikro ini bisa memicu naik-turunnya emosi kayak roller coaster mini (Almeida, 2005).

Jadi, kalau lo ngerasa moody tapi masih bisa:
– ngobrol normal,
– kerja atau sekolah seperti biasa,
– dan nggak sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain,

itu tandanya lo baik-baik aja.

Moody itu normal. Manusiawi. Bahkan kadang lucu kalau dipikir-pikir.

Yang penting bukan menghilangkan mood swing, tapi belajar membaca sinyal tubuh:
“Mau makan?”
“Mau tidur?”
“Mau istirahat?”
“Mau dipeluk?”
“Mau nonton kucing jatuh dari sofa?”

Pada akhirnya, moody adalah cara tubuh bilang: “Hei, hidup ini capek juga. Pelan-pelan dong.”

Dan kalau lo masih bisa senyum setelah mood naik-turun seharian?
Berarti lo bukan moody… lo multitalenta secara emosional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *