Ayah Bukan Tentara, Anak Bukan Prajurit: Tentang Ketegasan yang Tetap Punya Ruang Sabar

Ada satu hal yang gue pelajari setelah jadi ayah: menjadi tegas itu nggak sama dengan jadi keras. Tegas itu arah, keras itu nada. Dan anak, mau setangguh apa pun mereka tumbuh nanti, tetap butuh arahan yang datang dari ketenangan—bukan ledakan.
Sebagai ayah, gue kadang marah. Wajar. Capek, tekanan hidup, harapan yang besar, dan rasa takut mereka salah langkah sering kali numpuk di dada. Tapi marah yang gue usahakan itu bukan yang bentuknya teriakan. Bukan yang bikin anak gemetar atau merasa kecil. Lebih kayak marah yang ditahan dengan napas panjang, marah yang jelasin, marah yang ngajak ngobrol, marah yang justru jadi pintu komunikasi.
Karena gue tahu betul rasa nggak enaknya dibandingkan di depan banyak orang.
Gue pernah duduk di ruang rapat, dibandingkan dengan tim lain, divisi lain, atau orang lain—padahal konteksnya beda, situasinya beda, prosesnya beda. Dan gue ingat: tidak ada satu pun perbandingan itu yang bikin gue termotivasi. Yang ada cuma jengkel, malu, dan ngerasa diremehkan.
Itu sebabnya gue nggak mau ngulang hal yang sama ke anak gue.
Kalau butuh ngasih contoh, gue akan lakukan empat mata.
Kalau mau mengoreksi, gue pilih waktu yang tenang.
Kalau mau memberi gambaran, gue pakai bahasa yang nggak bikin dia merasa kalah sebelum mulai.
Karena anak itu bukan robot yang bisa diprogram. Mereka manusia kecil yang lagi belajar mengenal dirinya. Dan tugas ayah bukan cuma memastikan mereka “benar”, tapi memastikan mereka paham kenapa harus begitu.
Kadang gue liat anak gue bandel. Kadang dia ngeyel. Kadang dia ngulang kesalahan yang gue udah jelasin kemarin. Dan di momen itu, jujur aja, marah itu ngintip dari balik tenggorokan. Tapi kemudian gue ingat bahwa anak belajar dengan lambat, dengan pola yang acak, dengan dunia kecil yang masih penuh rasa ingin tahu.
Gue ingin dia tumbuh bukan karena takut, tapi karena mengerti.
Bukan karena gue teriak, tapi karena gue hadir.
Dan perlahan gue sadar:
ketegasan ayah sesungguhnya terbentuk dari kesabaran yang tidak habis, bukan dari volume suara yang naik.
Kalau suatu hari dia dewasa dan mengingat gue, gue berharap dia mengingat sosok ayah yang membimbing, bukan menakutkan. Ayah yang tegas, bukan keras. Ayah yang mengarahkan, bukan merendahkan. Ayah yang memilih menahan ego demi menjaga hati seorang anak yang ia cintai.
Karena pada akhirnya, hubungan ayah dan anak itu bukan tentang siapa yang benar, tapi siapa yang hadir. Dan gue ingin hadir sebagai versi terbaik yang bisa gue berikan.










