Ketika Gue memilih Beribadah Tanpa Label: Ritual, Keheningan, dan Universalitas yang Menumbuhkan Jatidiri

Ada sesuatu yang berubah dalam cara gue memandang agama. Bukan karena gue menjauh, bukan karena gue menolak, dan bukan karena gue sok-sokan pengen jadi “bebas”. Justru sebaliknya: gue tetap melakukan ritual keagamaan—berdoa, merenung, menyapa langit dalam cara yang diajarkan sejak kecil—tapi gue memilih tidak terikat pada identitas agama tertentu.
Buat sebagian orang, pilihan ini terdengar aneh. Tapi buat gue, ini adalah keputusan spiritual paling jujur yang pernah gue ambil.
Secara psikologis, manusia itu butuh ruang untuk mengalami makna tanpa tekanan identitas. Ketika ritual dilakukan tanpa tuntutan label, otak bisa masuk ke mode intrinsic spirituality—kondisi ketika seseorang berhubungan dengan nilai transenden secara lebih personal dan otentik (Pargament, 1997). Dan jujur, itu rasanya adem banget. Lo beribadah bukan karena perangkat sosialnya, tapi karena getaran dalam diri lo sendiri.
Gue menghormati semua agama, semua tradisi, semua bentuk pencarian. Tapi gue juga sadar bahwa identitas kelompok kadang justru bikin seseorang lupa inti ajaran itu sendiri. Dalam sosiologi, identitas agama sering bikin orang lebih fokus pada in-group loyalty ketimbang nilai-nilai universal yang seharusnya membimbing manusia (Tajfel, 1978). Gue memilih jalan yang sedikit di pinggir supaya bisa melihat semuanya tanpa kacamata fanatisme.
Ritual tetap gue lakukan karena ritual itu bukan milik kelompok—ritual adalah bahasa batin. Momen lo menunduk, menenangkan napas, nyebut nama Tuhan, atau sekadar diam dengan niat baik—itu bukan tentang “agama apa”, tapi tentang siapa lo di hadapan sesuatu yang lebih besar dari diri lo.
Dan di sisi itu, spiritualitas terasa sangat universal. Nilai-nilai seperti kasih sayang, kebaikan, pengampunan, ketenangan, dan kesadaran selalu hadir di setiap tradisi. Psikologi moral bahkan menegaskan bahwa nilai-nilai itu adalah bagian dari moral foundation manusia, yang muncul lintas budaya dan lintas agama (Haidt, 2012). Jadi ketika gue mempraktikkan ritual, gue merasa bukan lagi menjadi bagian dari satu kelompok, tapi bagian dari kemanusiaan itu sendiri.
Pilihan untuk tidak memakai label agama bukan berarti kehilangan akar. Itu justru cara gue ngasih ruang untuk bertanya, untuk tumbuh, dan untuk memahami Tuhan tanpa batasan kotak sosial. Dalam filsafat eksistensial, pencarian ini disebut authentic being—hidup dengan kesadaran penuh, bukan berdasarkan titipan identitas (Heidegger, 1927).
Dan yang paling emosional adalah: gue tetap merasa dekat dengan Tuhan. Bahkan lebih dekat daripada ketika gue memaksakan diri memasuki satu identitas religius tertentu. Ketika lo tidak merasa perlu “membuktikan diri” ke kelompok mana pun, ibadah terasa ringan. Nggak ada performa. Nggak ada pembandingan. Hanya lo dan keheningan.
Akhirnya, gue belajar satu hal:
☝️ iman itu bukan bendera, tapi perjalanan.
Dan perjalanan itu kadang butuh ruang, bukan tembok. Butuh kelapangan, bukan label. Butuh kejujuran, bukan afiliansi.
Gue masih berdoa. Gue masih melakukan ritual sholat, yang kata orang yg liat gue sholat bolong-bolong. Tapi gue tetap menjaga hak gue untuk tetap menjadi manusia yang mencari, tanpa harus memastikan diri berada di bawah satu identitas keagamaan tertentu. Karena yang gue cari bukan pengakuan sosial—tapi kedamaian batin.
Dan selama hati gue tenang, gue tahu gue sedang berjalan di jalan yang bener. Untuk gue. Untuk hidup gue. Untuk Tuhan yang gue yakini dalam cara yang paling personal.










