RSUD Jatisari dan Komitmen Serius Memburu Tuberkulosis: Dari Lapangan, Bukan Cuma Dari Ruang Rapat

Ada energi berbeda setiap kali pelayanan kesehatan turun langsung ke masyarakat. Bukan sekadar pasang tenda, gelar kursi, atau bikin spanduk gede; tapi tentang hadirnya tenaga kesehatan yang bener-bener turun tanah. Dan itu yang dilakukan RSUD Jatisari lewat kegiatan Bakti Sosial ‘Karawang Bebas Tuberkulosis’ di wilayah Tirtajaya dan Batujaya—sebuah langkah nyata buat ngingetin kita bahwa perang melawan TB itu nggak bisa setengah hati.
Di balik kegiatan Active Case Finding (ACF) ini, ada satu pesan yang terus digarisbawahi oleh Direktur RSUD Jatisari, dr. Hj. Anisah, MEpid. MM: pelayanan kesehatan bukan cuma soal gedung besar dan alat canggih, tapi tentang sejauh apa kita berani mendekat ke masalahnya. ACF itu sendiri adalah metode deteksi dini yang terbukti mempercepat penemuan kasus, sehingga potensi penularan bisa ditekan lebih cepat (World Health Organization, 2022). Karena kuncinya sederhana tapi krusial: semakin cepat ketemu, semakin besar peluang sembuh, semakin kecil penyebarannya.
Yang gue suka dari pendekatan RSUD Jatisari adalah keberaniannya untuk nggak nunggu pasien datang. Mereka memilih hadir duluan di tengah masyarakat. Dalam teori kesehatan masyarakat, strategi ini dikenal sebagai community outreach, yang terbukti efektif untuk penyakit menular yang sering sembunyi di populasi tanpa gejala (Frieden, 2017). Bayangin kalau TB yang gejalanya kadang samar dibiarkan tanpa pemeriksaan… ya bisa jadi mata rantai panjang yang nggak kelihatan tapi fatal.
Dan di lapangan, kegiatan ini bukan cuma aktivitas medis. Ini juga bentuk komunikasi sosial. Ada rasa aman yang tumbuh ketika masyarakat lihat tenaga kesehatan hadir dengan wajah ramah, bukan dengan kalimat menakut-nakuti. Secara psikologis, pendekatan seperti ini meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan formal (Thompson, 2015). Karena apa pun programnya, tanpa kepercayaan, warga nggak akan datang.
Dalam konteks pelayanan publik, RSUD Jatisari lagi nunjukin bahwa komitmen itu nggak boleh berhenti di dokumen visi-misi. Komitmen itu harus kelihatan lewat keringat, keberadaan, dan konsistensi. Dan kegiatan 15 November ini adalah contohnya: penelitian bergerak, pemeriksaan dilakukan, edukasi diberikan, masyarakat dijangkau satu per satu.
Yang lebih hangat lagi, kegiatan kayak gini jadi penegas bahwa kesehatan bukan cuma urusan klinis—ini urusan kemanusiaan. TB bukan cuma angka di laporan tahunan, tapi realitas hidup warga yang perlu perhatian. Dengan hadirnya RSUD Jatisari sebagai leading actor di kegiatan ini, harapan itu terasa nyata: bahwa Karawang benar-benar bisa bergerak menuju wilayah yang lebih sehat, lebih terlindungi, dan lebih peduli.
Akhirnya, seperti kata dr. Anisah, program pelayanan kesehatan harus dihidupkan, bukan dihafalkan. Dan lewat kegiatan ACF ini, RSUD Jatisari lagi membuktikan itu—bahwa komitmen terbaik adalah yang dirasakan masyarakat secara langsung, dari ujung kampung sampai pusat kota.
Kalau pelayanan kesehatan di daerah lain bergerak seberani ini, gue yakin satu hal: Indonesia bisa lebih cepat bebas dari stigma, beban, dan bayang-bayang Tuberkulosis.










