Mimpi Ribuan Sekolah Terintegrasi di era Prabowo : Ketika Pendidikan Jadi Jalan Pulang Menuju Kesempatan yang Lebih Adil

Ada momen ketika sebuah gagasan tentang pendidikan bikin gue mikir panjang: bagaimana kalau ribuan sekolah di Indonesia dirancang ulang menjadi sekolah terintegrasi—tempat anak bukan cuma belajar, tapi juga tumbuh, terlindungi, dan siap menghadapi hidup? Bukan sekolah yang hanya punya ruang kelas dan papan tulis lusuh, tapi sekolah yang dibangun sebagai ekosistem lengkap.
Karena kalau kita jujur, pendidikan kita sering terasa kayak puzzle yang kehilangan satu atau dua kepingan penting. Ada sekolah, iya. Ada guru, iya. Tapi fasilitas? Akses? Relevansi? Masih banyak yang ketinggalan. Dalam studi pembangunan sosial, kesenjangan kualitas fasilitas pendidikan adalah salah satu penyebab utama ketidaksetaraan antardaerah (UNESCO, 2015). Di sinilah gagasan sekolah terintegrasi jadi menarik: ia mencoba menutup lubang-lubang itu dalam satu nafas.
Sekolah terintegrasi artinya sekolah yang punya fasilitas komplit—kelas yang layak, akses digital, olahraga, ruang seni, layanan kesehatan dasar, perpustakaan yang beneran hidup, sampai keterhubungan ke masyarakat dan dunia kerja. Teori pendidikan bilang bahwa pembelajaran yang efektif itu harus holistik, bukan sepotong-sepotong (Mezirow, 1991). Anak belajar bukan cuma dari guru, tapi dari lingkungan yang mendukung rasa ingin tahunya setiap hari.
Di sisi emosional, gue kebayang anak-anak yang sekarang harus jalan jauh, numpang angkot berkali-kali, atau belajar di ruang sempit tanpa ventilasi. Ketika sekolah terintegrasi hadir dekat rumah mereka, bahkan di daerah-daerah yang selama ini cuma “kebagian sisanya”, itu bukan hanya pembangunan fisik; itu bentuk keadilan. Pendidikan yang merata memungkinkan seseorang keluar dari takdir sosial tempat ia dilahirkan (Rawls, 1971). Dengan kata lain, sekolah yang baik bisa jadi jembatan sunyi menuju hidup yang lebih manusiawi.
Tapi tentu aja, pembangunan ribuan sekolah bukan sulap. Tantangannya nggak kecil. Infrastruktur butuh biaya besar, kualitas guru harus naik serempak, kurikulum harus relevan, manajemen sekolah harus transparan. Banyak negara yang gagal ketika cuma fokus ke jumlah tanpa memperhatikan kualitas, dan itu jadi pengingat bahwa pendidikan bukan proyek seremonial; ini proyek jangka panjang yang nyentuh hidup manusia dari akar terdalamnya (Ostrom, 1990).
Namun bukan berarti mustahil. Kalau pemerintah serius, masyarakat ikut terlibat, dan sekolah tidak hanya dibangun, tapi dirawat, maka sekolah terintegrasi bisa jadi lompatan besar. Ini bukan sekadar visi, tapi investasi masa depan. Karena anak-anak yang dibesarkan di sekolah yang mendukung jiwanya akan tumbuh sebagai generasi yang mampu berpikir kritis, punya empati, dan tahu cara berkontribusi pada negeri ini.
Dan menurut gue, itu poin paling penting: pendidikan bukan tentang hari ini. Pendidikan adalah cara kita menyiapkan masa depan. Ketika ribuan sekolah terintegrasi diwujudkan dengan kualitas yang konsisten, Indonesia nggak cuma punya gedung baru—kita punya harapan baru.
Pada akhirnya, gagasan ini ngajak kita buat bertanya: kalau pendidikan adalah hak dasar, kapan terakhir kali negara memberi hak itu dengan utuh? Dan kalau sekarang ada upaya buat memenuhi itu, apa kita siap ikut menjaga prosesnya?
Karena sekolah bukan cuma tempat belajar. Ia adalah awal dari semua perjalanan yang menentukan siapa kita nanti.










