Met Milad, semoga Muhammadiyah tetap Istikomah pada Khitah

Spread the love

Ada momen-momen tertentu ketika sebuah ucapan bukan lagi sekadar rangkaian kata, tapi jadi jembatan emosional antara dua kekuatan sosial yang sama-sama berjuang untuk kebaikan. Buat gue, sebagai bagian dari pemerintah daerah, ucapan selamat Milad Muhammadiyah itu justru jatuh ke kategori yang kedua—bukan formalitas, tapi semacam sapaan hangat dari satu pelayan publik kepada pelayan publik lainnya. Dan jujur, ada getaran emosional yang sulit dijelasin ketika dua entitas yang berbeda peran, tapi sama semangatnya, saling menghormati.

Dalam kacamataku, gerakan seperti Muhammadiyah udah lama hadir sebagai denyut sosial yang berjalan beriringan dengan langkah pemerintah. Mereka ngerawat pendidikan, kesehatan, dan aktivitas sosial dengan napas ketulusan yang kadang bikin gue mikir: “Ini kerja yang nggak selalu bisa diukur angka, tapi jelas banget dampaknya.” Secara sosiologis, kontribusi kayak gini disebut civil engagement yang memperkuat kohesi sosial di tingkat akar rumput (Putnam, 2000). Dan itu alasan kenapa ucapan Milad ini buat gue terasa menghangatkan—karena kami melihat kerja besar itu setiap hari.

Sebagai bagian pemerintah daerah, gue sadar bahwa hubungan dengan organisasi masyarakat itu bukan hubungan hierarki, tapi hubungan kemitraan. Keduanya saling mengisi kekosongan yang nggak bisa dijangkau sendirian. Dalam psikologi sosial, harmoni semacam ini disebut cooperative interdependence—kondisi ketika dua kelompok berjalan berdampingan karena tahu keberhasilan mereka saling terkait (Deutsch, 1949). Jadi ketika gue ikut menyampaikan selamat Milad, ada rasa bangga juga: bangga bahwa daerah ini punya mitra sosial yang kuat, konsisten, dan berdedikasi.

Yang bikin emosional adalah kesadaran bahwa peringatan Milad bukan cuma ulang tahun organisasi—tapi penanda perjalanan panjang nilai. Nilai tentang pendidikan yang memerdekakan, pelayanan yang memanusiakan, dan kerja sosial yang merawat harapan. Kalau dipikir dengan perspektif keilmuan, nilai-nilai ini termasuk moral capital yang memperkuat daya tahan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman (Coleman, 1988). Dari sisi manusiawi, nilai-nilai ini bikin lo ngerasa dunia nggak sekelam itu—selalu ada yang bekerja dalam senyap, dan kerja itu terasa.

Ucapan Milad dari pemerintah, buat gue, adalah refleksi kecil bahwa kami menghargai semua itu. Bahwa langkah Muhammadiyah bukan langkah sendirian. Ada kami yang, meski dengan segala keterbatasan birokrasi dan dinamika publik, tetap ingin menyandingkan upaya, bukan membiarkan perjuangan berjalan masing-masing. Hubungan kayak gini yang bikin masyarakat punya rasa aman kolektif—rasa bahwa negara dan masyarakat sipil masih bisa duduk satu meja dan berbagi cita (Tajfel, 1978).

Dan di akhirnya, ucapan ini adalah doa. Doa agar energi kebaikan ini nggak padam. Doa agar sinergi sosial terus tumbuh, bukan hanya di dokumen, tapi di lapangan. Doa agar Muhammadiyah terus bergerak dengan cahaya yang sama, dan kami di pemerintah daerah bisa terus jadi mitra yang suportif, bukan sekadar pengamat.

Dengan segala penghormatan dan ketulusan: selamat Milad Muhammadiyah. Semoga langkah yang sudah ditempuh selama lebih dari satu abad ini terus jadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju kesejahteraan yang lebih adil, lebih lembut, dan lebih manusiawi. Dari kami yang bekerja di pemerintahan daerah, ini bukan cuma ucapan—ini adalah pengakuan, penghargaan, dan harapan yang lahir dari hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *