Membelah Antrian, Membangun Solusi: Strategi RSUD Jatisari Mengurai Penumpukan Layanan Hemodialisa

Spread the love

Ada suasana yang khas ketika ruang rapat di sebuah rumah sakit berubah jadi ruang percepatan keputusan. Bukan lagi sekadar duduk rapih atau buka laptop, tapi ada denyut urgensi yang kerasa dari cara setiap orang memperhatikan, mencatat, dan siap bergerak. Itulah nuansa yang terlihat ketika Direktur RSUD Jatisari, dr. Hj. Anisah, MEpid., MM., memimpin rapat bersama seluruh unsur terkait untuk satu isu besar: antrian panjang layanan Hemodialisa.

Masalah antrian Hemodialisa itu bukan sekadar persoalan teknis. Ini soal ritme hidup pasien-pasien gagal ginjal yang waktunya benar-benar bergantung pada mesin. Beberapa studi menyebut bahwa keterlambatan atau kurangnya akses Hemodialisa dapat meningkatkan beban fisik dan mental pasien secara signifikan (Finkelstein, 2010). Jadi ketika antrian mulai memanjang, itu bukan hanya gangguan layanan—itu alarm kemanusiaan.

Dalam rapat itu, pembahasannya langsung ke akar. Semua unsur duduk bareng: manajemen, medis, keperawatan, hingga tim teknis yang terlibat dalam operasional layanan. Strategi yang dibicarakan bukan sekadar menambah jam layanan atau memindahkan jadwal, tapi bagaimana kapasitas bisa dinaikkan agar RSUD Jatisari semakin responsif terhadap kebutuhan mendesak warga.

Komitmen untuk menambah kapasitas fasilitas Hemodialisa jadi poin besar yang ditegaskan. Ini pilihan yang logis sekaligus berani. Dalam teori sistem kesehatan, peningkatan kapasitas bukan hanya solusi jangka pendek, tapi fondasi untuk layanan yang lebih adil dan efektif (WHO, 2018). Dengan kapasitas yang lebih besar, rumah sakit bisa mencegah penumpukan, mempercepat layanan, dan mengurangi beban pasien BPJS yang seringkali bergantung penuh pada fasilitas publik.

Dan yang menurut gue paling kerasa dari dinamika rapat itu adalah kesadaran kolektif: bahwa pelayanan kesehatan itu nggak boleh menunggu. Pasien gagal ginjal tidak punya kemewahan waktu, dan itulah kenapa upaya mempercepat layanan bukan lagi pilihan, tapi keharusan moral. Keputusan yang baik lahir dari keberanian untuk mendengar, memahami, dan mengeksekusi, bukan sekadar mencatat.

RSUD Jatisari dengan ini mempertegas komitmennya. Bahwa pelayanan bukan cuma slogan, tapi kerja nyata yang lahir dari ruang rapat seperti ini—ruang kecil yang memutuskan langkah besar. Ketika kapasitas Hemodialisa ditambah dan alur pelayanan diperbaiki, bukan hanya antrian yang terurai; kualitas hidup pasien pun ikut naik.

Pada akhirnya, ini adalah cerita tentang bagaimana rumah sakit daerah berjalan cepat ketika masyarakat butuh. Tentang pemimpin yang turun langsung memimpin diskusi. Tentang tim yang siap bergerak bersama. Dan tentang harapan yang tumbuh pelan-pelan, satu mesin Hemodialisa pada satu waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *