KETIKA MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH

Spread the love

Ada satu fase dalam hidup ketika gue akhirnya sadar bahwa nggak semua hal harus dikasih label. Termasuk urusan keberagamaan. Bukan karena gue alergi sama Muhammadiyah, NU, Persis, atau organisasi keagamaan apa pun, tapi karena ada sesuatu yang bikin hati gue lebih plong saat gue berdiri sedikit di pinggir, nyimak, dan milih jalan spiritual gue tanpa embel-embel institusional. Dan anehnya, di titik itu gue ngerasa lebih bijaksana, seolah kepala dan hati gue tiba-tiba dapet ventilasi tambahan.

Secara psikologis, manusia itu cenderung mengikuti kelompok karena pengen rasa aman. Identitas kelompok bikin seseorang ngerasa punya “rumah sosial”, yang dalam psikologi sosial disebut sebagai kebutuhan akan belonging (Baumeister, 1995). Tapi sisi lain dari dinamika ini adalah munculnya bias in-group—kecenderungan membela kelompok sendiri, kadang tanpa mikir panjang (Tajfel, 1978). Ketika gue nggak nempel ke kelompok mana pun, gue justru ngerasain perspektif yang lebih lapang. Gue bisa ngeliat semua organisasi itu sebagai bagian dari mosaik besar, bukan kompetitor yang harus gue pilih salah satu.

Yang bikin gue ngerasa lebih bijaksana bukan karena gue ngerasa lebih baik dari yang berafiliasi, tapi karena gue merasa lebih jujur sama diri sendiri. Ada ruang otonomi yang kebuka—ruang di mana gue bisa mikir, nanya, ragu, dan yakin tanpa harus ngecek “ini sesuai platform kelompok gue nggak ya?” Otonomi psikologis kayak gini sering jadi fondasi kedewasaan batin, karena bikin kita bertanggung jawab pada keyakinan kita sendiri (Deci & Ryan, 2000). Dan rasanya tuh adem, kayak akhirnya bisa jalan tanpa beban ekspektasi sosial.

Di sisi lain, nggak berafiliasi bikin gue lebih gampang mengapresiasi semua kelompok tanpa rasa “gue di kubu mana.” Dalam bahasa sosiologi, posisi kayak gini masuk kategori bridging—orang yang bisa menghubungkan antar kelompok karena dia nggak terikat ke satu identitas tertentu (Putnam, 2000). Bridging ini biasanya bikin seseorang lebih terbuka, lebih moderat, dan lebih empatik, karena dia nggak sibuk bawa bendera. Dia cuma bawa rasa ingin memahami.

Tapi yang paling emosional buat gue adalah ini: ketika gue memilih netral, gue akhirnya bisa ngeliat agama sebagai perjalanan personal, bukan kompetisi struktural. Gue bisa menghargai tafsir NU yang humanis, kagum sama kedisiplinan Muhammadiyah, saling sapa sama ketegasan Persis, tanpa harus ngerasa “ini bukan warna gue.” Dan di situlah letak kedewasaan itu tumbuh—di titik ketika lo bisa menghargai semua warna tanpa harus menempel di satu warna tertentu.

Gue bukan anti-organisasi. Gue cuma percaya bahwa setiap orang punya jalannya sendiri buat kembali ke Tuhan. Ada yang cocok rame-rame, ada yang butuh struktur, ada yang pengen punya komunitas yang solid. Tapi ada juga yang kayak gue: menemukan kejernihan justru ketika berdiri sedikit di luar keramaian. Bukan menjauh, cuma memilih sunyi yang cukup buat bikin pikiran bening.

Dan kalau dari pilihan itu gue merasa lebih bijaksana—lebih tenang, lebih adil, lebih mampu memahami tanpa menghakimi—mungkin karena netralitas bukan sikap datar, tapi ruang yang bikin hati bisa melihat lebih jauh. Lebih luas. Lebih lembut. Lebih manusiawi.

Kadang, bijaksana itu bukan soal memilih kubu. Tapi soal berani berdiri di tengah, sambil bilang ke diri sendiri: gue belajar dari semuanya, tanpa harus jadi salah satunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *