Ketika Ada yang Japri Soal BAB Hitam: Curhat Dokter, Edukasi Santai, dan Tips Biar Perut Tetap Waras

Spread the love

Tadi ada yang japri gue—nanya dengan nada panik halus—soal keluhan yang sebenarnya klasik tapi sering bikin orang overthinking: jarang BAB, dan sekalinya BAB… warnanya hitam legam kayak abis dicelup aspal.

Gue yang lagi santai tiba-tiba langsung kena mode dokter-on, meski tetap dengan kepala dingin dan gaya ngobrol gue yang biasa. Dan setelah gue gali dikit, ternyata doi lagi program minum tablet tambah darah—30 butir, sehari satu, dikasih sama bidan waktu imunisasi pra-nikah TT.

Di titik itu, gue langsung ngerti duduk perkaranya.

BAB hitam pekat setelah minum zat besi itu normal banget. Bukan tanda kiamat, bukan juga lambung lagi ngirim surat perpisahan. Justru itu tanda bahwa tubuh lagi nerima suplemen besi, dan sebagian warnanya “ikut keluar” lewat feses. Dalam farmakologi, ini disebut efek samping non-aktif bahan besi—warna berubah, tapi fungsi tubuh aman (Hall, 2016).

Tapi, karena manusia itu makhluk penuh tanya, rasa takut tetap muncul. Dan itu wajar. Makanya gue jelasin dengan santai:
“Tenang beb, itu normal. Lanjut aja minum tambah darahnya.”

Karena tujuan tablet tambah darah itu bukan iseng-iseng. Suplemen besi dipakai buat ngejar cadangan hemoglobin, ningkatin oksigenasi sel, dan nyiapin tubuh—apalagi buat perempuan—supaya nggak gampang ngosong di kemudian hari (WHO, 2019).

Tapi ada satu hal lagi yang gue sampaikan, dan ini penting:
“Minumnya lanjut, tapi air putih dikebut, serat jangan pelit.”

Tablet besi itu punya efek samping bikin konstipasi. Bikin perut ngerasa lambat, kadang kayak nyimpen batu bata kecil. Maka dari itu, minum harus cukup, serat harus gerak, dan aktivitas fisik bantu banget. Secara fisiologis, hidrasi dan serat itu kombinasi yang nolong motilitas usus biar nggak mogok (Mayo Clinic, 2020).

Yang gue suka dari momen kayak gini adalah sisi manusianya. Ketika orang japri hanya karena percaya bahwa gue bisa jawab. Ketika ilmu itu bukan cuma di buku, tapi turun jadi obrolan santai. Ketika keluhan kesehatan—yang kadang malu diomongin—jadi bahan ngobrol yang bikin orang ngerasa aman.

Dan di situlah, jadi dokter (atau tenaga kesehatan apa pun) punya rasa hangat tersendiri: bukan cuma soal ngasih tahu apa yang benar, tapi memastikan orang merasa ditemani di tengah khawatirnya.

Jadi intinya: kalau lagi minum tablet tambah darah terus BAB lo jadi gelap, don’t panic. Fokus ke hidrasi, serat, dan ritme tubuh. Tubuh itu pinter, dia ngerti cara adaptasi. Lo cuma perlu bantuin sedikit.

Kalau ada yang mau japri lagi? Santai. Asal bukan jam gue lagi makan. Karena dokter pun butuh ruang buat cerna, secara harfiah maupun batin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *