ULANG TAHUN SEKOLAH, TETAP HEPI MESKI OTAK RIBUT SENDIRI

Di tengah lapangan sekolah yang penuh sama anak-anak muda, suasananya itu kayak campuran festival, reuni akbar, dan sedikit drama sinetron yang nggak sengaja kebuka. Dari jauh keliatannya mereka duduk manis, tapi kalau lo bayangin apa yang lagi muter di kepala mereka? Wah, bisa dipake buat bikin season baru sebuah series remaja.
Ada yang sambil nunggu acara mulai, tapi otaknya malah muter hal-hal random: “Nanti tampil siapa?” “Tadi gue matiin kompor nggak ya?” atau “Kenapa hidup gue kayaknya masih buffering?” Meskipun kelihatannya adem, hati remaja itu sering lebih berisik daripada sound system panggung acara sekolah.
Di samping itu, sebagian mungkin lagi mikirin masa depan yang bentuknya masih blur banget. Kayak, lo tahu harus maju, tapi jalannya masih kabur dengan efek-efek asap aesthetic. Deg-degannya bukan karena takut, tapi karena masa depan itu sesuatu yang gede, dan remaja baru mulai ngejalanin episode pertamanya.
Ada juga yang fokus ke hal-hal sosial: temen duduk di mana, siapa yang ngeliatin siapa, siapa yang fotonya nanti bakal paling estetik buat diposting. Remaja itu emang sensitif sama vibes sekitar, makanya acara rame gini kadang kayak medan perang antara rasa percaya diri dan rasa canggung.
Tapi di sisi lain, ada yang diam-diam menikmati momen ini. Duduk bareng temen-temen satu angkatan, liat guru sibuk, liat panggung siap tampil… semua itu bikin hati hangat. Kayak, di balik semua hektik, ada rasa “ternyata gue nggak sendiri di dunia yang ribut ini.”
Dan pasti ada yang lagi mikir soal cinta. Entah gebetan lewat sambil nengok dikit, atau cuma lewat tapi mereka berharap nengok. Rasanya kecil, tapi di usia segini, hal kayak gitu bisa bikin mood naik satu level lebih cerah daripada langit mendung yang lagi nongol di atas lapangan.
Beberapa mungkin lagi capek tapi pura-pura kuat. Bukan karena acara ini melelahkan, tapi karena hidup remaja itu sebenarnya banyak proses internal yang nggak keliatan. Kadang mereka cuma butuh duduk, ngeliat keramaian, dan bilang ke diri sendiri, “Gue baik-baik aja kok.”
Ada juga yang lagi mikir soal tugas, PR, atau ulangan yang entah kenapa selalu nongol di kepala di waktu-waktu yang paling tidak tepat. Tapi mereka tetap hadir, tetap nonton acara, tetap ketawa bareng—seakan bilang, “Hidup boleh berat, tapi gue masih punya momen buat dinikmati.”
Di kerumunan itu, ada energi muda yang nggak bisa lo temuin di tempat lain. Energi yang sedikit absurd, sedikit lucu, tapi tulus banget. Mereka lagi belajar memahami dunia, diri sendiri, dan orang lain, sering lewat cara-cara yang bikin mereka bingung tapi juga bikin mereka tumbuh.
Dan pada akhirnya, yang berkecamuk di kepala mereka itu campuran antara harapan, kekhawatiran, kebahagiaan kecil, dan mimpi-mimpi yang belum punya bentuk. Lucunya, di balik semua itu, mereka tetap hadir, tetap mencoba, tetap tertawa. Emosional? Iya. Jenaka? Jelas. Itulah hidup remaja—ribut, indah, dan selalu penuh cerita.










