HUJAN NUNJUKIN BETAPA HIDUP ITU RANDOM

Hujan yang turun di luar itu vibes-nya kayak seseorang yang tiba-tiba join Zoom meeting tanpa mute—ngagetin, rame, tapi yaudah, diterima aja. Dari pintu yang kebuka setengah, air jatuh kayak lagi audisi jadi tukang ketik tercepat sedunia, mengetuk lantai tanpa jeda: tik-tik-tik-tiktiktik….
Pohon di luar kayak lagi ikut lomba goyang bareng angin, gerakannya random, nggak kompak, tapi tetap penuh semangat—mirip tim yel-yel kelas yang baru latihan lima menit sebelum tampil. Sementara pot tanaman warna-warni mukanya kayak, “Bang, kami udah mandi tiga kali hari ini, cukup plis.”
Genangan air di depan pintu pelan-pelan berubah jadi cermin hidup. Lo liat ke bawah, refleksinya nggak ngasih motivasi hidup, malah ngasih pertanyaan aneh: “Apa gue wujud atau cuma NPC di dunia lain?” Nggak ada jawaban. Genangannya diam. Hidup itu misteri.
Lalu ada suara hujan yang jatuh ke genteng—nadanya kayak lagu remix yang dibuat DJ yang baru belajar. Kadang dup-dup, kadang tik-tik, kadang BLAM! kayak ada tetangga yang ngelempar sandal ke kucing yang nggak kelihatan.
Angin dari celah pintu juga ikut-ikutan random. Datang tanpa undangan, kena muka lo kayak tangan teman usil yang nyeletuk, “Masuk ya?” Padahal nggak ada yang manggil. Angin cuma pengen ikut scene.
Di sudut ruangan, botol-botol plastik berdiri kayak warga negara patuh yang lagi apel pagi. Mereka diem, nonton hujan, mungkin mikir, “Kenapa kita di sini? Apa tugas kami? Hidup ini apa?” tapi mereka tetap berdiri tegak, profesional banget.
Air yang mengalir pelan di lantai depan mirip sinetron yang lagi zoom-in super lambat. Dramatis tanpa alasan. Apakah air itu punya tujuan? Tidak ada data. Apakah dia tetap jalan? Iya. Apakah dia peduli sama opini kita? Sangat tidak.
Hujan juga punya kemampuan ajaib bikin waktu jadi beda. Lima menit keliatannya kayak lima jam, dan lima jam kadang kayak lima detik. Lo jadi mikir random: “Kalau air hujan itu gratis, kenapa air galon bayar?” atau “Kenapa makanan jatoh lima detik aman? Ada izin negara?”
Dan akhirnya, di tengah semua kekacauan kecil itu, lo sadar: hujan sebenarnya cuma fenomena alam biasa… tapi otak kita yang bikin dia luar biasa random. Dan itu sah. Karena hidup kadang butuh momen aneh tanpa alasan. Momen yang bikin lo ketawa kecil, geleng-geleng, terus bilang, “Ya ampun, kok gue segabut ini?”










