Otak Kita Emang Doyan Drama, Jangan Kaget

Kadang gue mikir, kenapa orang jauh lebih excited liat drama, flexing, atau bad news ketimbang baca tulisan inspiratif. Dan makin gue masuk ke literatur psikologi, makin kelihatan kalau ini bukan sekadar “orang males baca hal baik,” tapi emang cara otak kita disetel sejak lama. Fenomena ini dijelasin lewat konsep negativity bias yang bilang manusia lebih responsif ke hal negatif (Baumeister, 2001).
Negativity bias bikin informasi negatif otomatis dianggap lebih penting karena otak kita berevolusi buat cepat mengenali ancaman. Peneliti bilang hal negatif lebih kuat mengaktifkan sistem perhatian dan memori (Rozin & Royzman, 2001). Jadi nggak heran kalau timeline yang berisi drama lebih cepat narik perhatian lo dibanding tulisan reflektif yang butuh waktu buat dipahami.
Flexing juga punya magnet tersendiri. Teori social comparison nunjukin manusia otomatis ngebandingin diri dengan orang lain buat tahu posisi sosialnya (Festinger, 1954). Ketika ada yang pamer, otak lo langsung ngecek: “Gue segini doang? Dia kok bisa begitu?” Respon ini instan, otomatis, dan bekerja bahkan tanpa lo sadari.
Konten dramatis juga ngasih dopamine hit yang lebih cepat. Dalam riset neuroreward, stimulus emosional yang kuat memicu lonjakan dopamin instan, bikin lo pengen terus scroll (Berridge & Robinson, 2016). Makanya gosip kerasa nagih, sedangkan tulisan inspiratif kerasa lebih “berat” meskipun manfaatnya lebih panjang.
Selain itu, drama dan bad news punya fungsi evolusioner sebagai warning system. Otak ngerasa info buruk tentang orang lain itu pelajaran cepat tentang apa yang sebaiknya lo hindari atau waspadai (LeDoux, 2012). Jadi bukan cuma hiburan—otak lo nganggep itu sebagai data bertahan hidup.
Media sosial membuat semua ini berkali-kali lipat. Algoritma sengaja nge-push konten yang memicu emosi intens karena itu yang paling tinggi engagement-nya (Brady, 2017). Inspirasi kalah bukan karena buruk, tapi karena dia nggak memicu ledakan emosi cepat yang diincar algoritma.
Dari sisi kognitif, manusia itu cognitive miser—kita lebih senang informasi yang paling mudah diproses (Kahneman, 2011). Drama? Lo cuma perlu reaksi. Inspirasi? Lo harus mikir, mengolah, dan mengaitkan ke hidup lo. Otak otomatis milih yang lebih hemat energi.
Gue juga sadar, kepo itu sebenernya bagian dari social monitoring system. Riset psikologi sosial bilang manusia perlu tahu apa yang terjadi dalam kelompoknya buat jaga posisi sosial dan memahami potensi risiko (Fiske, 2010). Jadi kepo itu bukan sekadar hobi; itu fungsi adaptif otak.
Tapi ada satu sisi gelap yang jarang dibahas: kecenderungan manusia merasa senang atas kesialan orang lain, alias schadenfreude. Peneliti menemukan bahwa emosi ini muncul terutama ketika orang lain dianggap kompetitor atau berada di level yang kita bandingkan (Smith et al., 2009). Ini sebabnya bad news terasa “menarik” bahkan ketika lo nggak mau ngaku.
Schadenfreude sering muncul pas lo lihat orang yang biasa flexing tiba-tiba jatuh. Otak membacanya sebagai redistribusi status sosial: lo ngerasa posisi lo relatif naik, walaupun lo nggak ngapa-ngapain. Riset tentang status sosial bilang manusia sensitif banget sama perubahan hierarki (Anderson, 2015).
Fenomena ini juga berkaitan sama rasa lega. Ketika lo lihat orang lain kena masalah, otak lo ngasih sinyal “Untung bukan gue,” dan itu ngasih rasa aman kecil yang sifatnya psikologis. Ini dijelaskan dalam literatur downward social comparison, di mana melihat orang lain berada dalam kondisi lebih buruk bisa mengurangi kecemasan (Wills, 1981).
Tulisan inspiratif nggak ngaktifin sistem itu. Inspirasi bikin lo ngerasa harus berubah, harus mikir, atau harus evaluasi diri—dan itu berat. Makanya banyak orang lebih memilih konsumsi drama sebagai distraksi daripada inspirasi sebagai proses pertumbuhan.
Inspirasi juga bekerja lebih lambat. Lo butuh waktu untuk memahami, menerima, dan menyimpulkan makna. Sementara drama bekerja dalam detik pertama lewat kejutan emosional. Perbedaan ritme ini bikin inspirasi kalah secara atensi di dunia digital yang serba cepat.
Fenomena fear of missing out juga main gede. Gosip dianggap sebagai “mata uang sosial”, informasi yang bikin lo tetap nyambung dalam percakapan kelompok. Penelitian menunjukkan FOMO meningkatkan konsumsi informasi berlebihan terutama pada topik sosial (Przybylski, 2013). Inspirasi nggak punya fungsi sosial sekuat itu.
Ada juga mekanisme reward yang ironis. Walaupun orang sering bilang capek sama drama, mereka tetep ngeklik. Ini sesuai temuan bahwa reward instan jauh lebih kuat daripada reward jangka panjang (Robinson & Berridge, 2003). Inspirasi menawarkan manfaat jangka panjang, tapi otak lebih suka hadiah cepat.
Di sisi lain, melihat orang lain gagal memberi validasi bahwa kesulitan hidup itu bukan cuma milik lo. Ini disebut empathic relief—lo merasa nggak sendirian dalam perjuangan. Ini nggak selalu jahat; itu cuma cara otak menstabilkan emosi.
Namun di balik semua itu, tulisan inspiratif tetap punya dampak yang beda. Dia nggak bikin lo excited dalam lima detik pertama, tapi bisa ninggalin jejak di kepala lo berhari-hari. Inspirasi itu kayak nutrisi—efeknya nggak instan, tapi ngebangun fondasi mental lo.
Drama bikin lo sibuk, tapi inspirasi bikin lo maju. Drama nendang sistem emosional, inspirasi nendang sistem reflektif. Dua-duanya punya tempat, tapi lo yang punya kendali mau fokus ke mana.
Dan mungkin akhirnya lo sadar: otak lo boleh doyan drama, tapi hati lo butuh inspirasi buat tetap waras. Lo boleh kepo, tapi jangan sampai itu ngalahin kebutuhan lo buat tumbuh. Karena pada akhirnya, apa yang lo konsumsi itulah yang ngebentuk diri lo.










