Ketika Kata Orang Jadi Penjara yang Kita Bangun Sendiri

Kadang gue mikir, kenapa sih “kata orang” bisa ngegas banget ke hidup kita? Lo mungkin ngerasa cuek, tapi begitu ada komentar nyeletuk sedikit, hati lo langsung goyang. Dari sudut pandang psikologi sosial, perhatian kita ke pendapat orang itu bukan drama, tapi bagian dari cara otak kita ngejaga posisi kita di lingkungan sosial. Riset tentang belongingness nunjukin kalau manusia punya kebutuhan dasar untuk diterima kelompok (Baumeister & Leary, 1995), jadi wajar kalau omongan orang kadang nyentil lebih keras daripada logika lo sendiri.
Yang bikin menarik, otak lo beneran memproses penolakan sosial kayak rasa sakit fisik. Studi neuroscience nunjukin area dorsal anterior cingulate cortex aktif pas lo ngerasa ditolak, sama kayak waktu lo kesenggol benda panas (Eisenberger, 2003). Jadi kalau lo bilang, “Gue kok baper banget ya?”, itu bukan lebay—otak lo memang dirancang buat alarm sosial.
Sejak kecil, kita tumbuh dengan sistem nilai yang nge-reward anak “yang nurut, yang sopan, yang dianggap baik.” Dalam perkembangan sosial, interaksi awal sama orang tua dan guru itu ngejalanin fondasi cara kita menilai diri (Harter, 2012). Kalau lo dibesarkan di lingkungan yang suka membandingkan atau gampang ngomentarin, sensitivitas lo ke pendapat orang jadi makin tinggi. Itu bukan karakter buruk; itu bentuk adaptasi yang kebawa sampai dewasa.
Tapi begitu lo masuk dunia kerja, dunia sosial, dan media digital, radar itu jadi makin sensitif. Lo jadi ngerasa diliatin, dinilai, diperhatiin 24 jam. Padahal fenomena ini udah dibahas lama lewat konsep spotlight effect, yaitu kecenderungan manusia ngerasa orang lain memperhatikan dirinya lebih dari kenyataannya (Gilovich, 2000). Jadi banyak kecemasan sosial yang lo rasain sebenernya cuma “kelebihan zoom” dari otak lo sendiri.
Budaya Indonesia yang lebih kolektivistik juga bikin “kata orang” kedengerannya kayak hukum moral. Dalam budaya kayak gini, reputasi dipandang sebagai perpanjangan dari identitas diri (Triandis, 1995). Bukan cuma soal diri lo doang, tapi juga nama keluarga, nama institusi, bahkan nama komunitas. Makanya wajar kalau lo ngerasa komentar orang itu kayak ngedorong beban yang sebenernya nggak lo minta.
Di sisi lain, media sosial bikin dinamika ini makin brutal. Sistem likes, komentar, dan views ngasih reward dopamin instan. Dalam kajian komunikasi digital, interaksi semacam itu jadi pemicu kuat perilaku mencari validasi (Nesi, 2020). Lo jadi butuh “tanda diterima”, bukan cuma dari lingkaran lo, tapi dari orang yang bahkan lo nggak kenal. Hasilnya? Lo makin peka sama kata orang, tapi bukan karena lo lemah—melainkan karena platformnya didesain buat bikin lo ketagihan diperhatikan.
Yang sering nggak kita sadari, peduli sama omongan orang sebenernya ada sisi adaptifnya. Lo jadi lebih waspada, lebih menjaga norma, dan lebih peka sama dinamika sosial. Psikologi sosial menyebut proses ini sebagai social self-regulation (Carver & Scheier, 1998). Tapi begitu porsinya kebanyakan, fungsi itu berubah jadi beban yang bikin lo susah napas.
Kadang lo mikir, “Gimana kalau gue salah langkah dan orang-orang ngomong yang nggak-nggak?” Pertanyaan itu muncul karena otak lo ngehubungin kesalahan dengan risiko dikeluarkan dari kelompok. Ini refleksi mekanisme evolusi: dulu kalau lo dikucilkan, lo bisa kehilangan perlindungan, makanan, bahkan keselamatan. Sampai sekarang jejaknya masih ada, cuma bentuknya beda.
Tapi here’s the twist: banyak komentar itu bukan refleksi diri lo, tapi refleksi kondisi orang yang ngomong. Psikologi kepribadian nunjukin bahwa orang yang sering mengkritik cenderung punya kecenderungan proyeksi, alias memindahkan isu internalnya ke orang lain (Freud, 1911; dalam konteks modern dijelaskan ulang oleh Vaillant, 1992). Jadi kadang yang lo tanggepin serius itu cuma letupan emosi orang lain.
Saat lo kebanyakan dengerin suara eksternal, identitas lo bisa kabur. Lo mulai ngerasa diri lo cuma sebaik penilaian orang terakhir yang lo denger. Ini dikenal sebagai contingent self-worth, kondisi di mana nilai diri lo bergantung penuh pada validasi sosial (Crocker, 2002). Akibatnya lo jadi gampang capek, gampang minder, dan gampang kehilangan arah.
Tapi ada sisi lain yang sering disepelein: pilihan buat ngatur “siapa yang boleh bersuara” itu sepenuhnya ada di tangan lo. Lo bisa pilih sumber validasi yang aman—orang yang ngerti lo, ngerti konteks, dan ngomong berdasarkan niat baik, bukan iritasi sesaat. Ini dasar dari konsep selective social support (Thoits, 2011), di mana daya tahan psikologis lo meningkat ketika lo cuma nyerap input dari sumber yang relevan.
Kayaknya sederhana, tapi ngatur porsi perhatian itu butuh latihan. Lo harus bisa ngebedain mana komentar yang informatif dan mana yang cuma kebisingan. Lo juga perlu belajar bedain “kritik yang membantu” sama “kritik yang menurunkan”. Dan itu proses yang nggak ada ujungnya, tapi tiap detiknya bikin lo lebih kuat.
Yang perlu lo inget, peduli sama kata orang itu bukan tanda lo lemah. Itu tanda lo manusia yang otaknya masih berfungsi dengan cara yang sangat sosial. Tapi membiarkan kata orang jadi kompas utama hidup lo? Itu yang bikin lo kehilangan diri lo sendiri. Lo boleh dengerin orang, tapi jangan sampai lo kehilangan suara lo.
Pada akhirnya, nilai diri yang stabil datang dari kemampuan lo ngeliat diri lo apa adanya, bukan apa adanya menurut orang lain. Lo boleh ambil masukan kalau itu bikin lo berkembang, tapi lo juga boleh tutup pintu kalau komentar itu cuma bikin lo tenggelam. Lo yang punya kendali, bukan mereka.
Dan di titik ini, lo mungkin sadar: yang penting bukan “kata orang”, tapi apa yang lo pilih buat percaya. Lo nggak butuh banyak suara; lo cuma butuh suara yang benar. Dan suara paling benar—adalah suara lo sendiri yang akhirnya berani bilang, “Gue cukup.”










