PESAN MENTARI PAGI INI

Spread the love

Ada bisikan halus yang hanya pagi sanggup mengucapkannya. Ia datang bersama hembusan udara yang masih perawan dari riuh dunia, mengelus napas pertama manusia yang terjaga. Di sanalah rahasia kecil bersemayam—bahwa setiap awal hari adalah vitamin yang tak dijual siapa pun, namun tersedia bagi siapa saja yang mau berhenti sejenak dan menghirupnya dengan penuh syukur.

Subuh selalu hadir seperti sahabat lama yang tidak pernah menuntut apa-apa. Ia menunggu dengan sabar, membuka tirai malam perlahan, seolah ingin mengatakan bahwa kehidupan selalu menyediakan ruang untuk memulai kembali. Dalam dinginnya udara, ada pesan lembut: bahwa tubuh tak hanya butuh makanan, tapi juga keheningan yang menenangkan jiwa.

Ketika embun masih menggantung pada dedaunan, dunia seakan belum memiliki beban. Langkah-langkah manusia yang tergesa belum mengguncang tanah, dan suara mesin belum merenggut sunyi dari telinga. Inilah waktu ketika alam sedang bernafas paling jernih—dan siapa pun yang menyerapnya seolah sedang membersihkan labirin dalam pikirannya sendiri.

Pagi mengajarkan bahwa kesegaran bukan sekadar rasa pada kulit yang disentuh udara. Ia adalah ingatan bahwa hidup selalu bergerak menuju terang. Bahwa bahkan setelah malam yang penuh gelisah, selalu ada peluang untuk menyusun ulang tenaga, membetulkan arah, dan merawat tubuh dari dasar yang paling sederhana: satu tarikan napas yang sadar.

Dalam cahaya yang perlahan naik dari ufuk, manusia menemukan dirinya dipeluk oleh kemurahan. Detik-detik pertama hari bukan sekadar permulaan waktu, melainkan undangan lembut agar jiwa belajar bernapas bersama semesta. Udara subuh memberi nutrisi bukan hanya kepada paru-paru, tetapi kepada harapan yang sering terlupakan dalam keramaian siang.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang merindukan pagi, meski tak selalu mengakuinya. Ada kedamaian yang tak bisa dijelaskan dengan logika, ada kesehatan yang tidak selalu tercatat dalam angka laboratorium. Pagi menyembuhkan tanpa menyentuh, menenteramkan tanpa berbicara, menguatkan tanpa memaksa.

Dan ketika matahari akhirnya mengintip dari balik horizon, kita sadar bahwa anugerah terbesar bukanlah panjangnya hari, melainkan keberanian untuk memulainya dengan tarikan napas yang penuh kesadaran. Karena siapa yang mampu mendengar pesan pagi, akan membawa sinarnya sepanjang hidup.

KOTA BUKIT INDAH, 15 NOVEMBER 2025, dalam dekapan gerimis pukul 5 pagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *