Kok Banyak Kamar Kosong, Tapi Tetap Nggak Bisa Masuk?

Spread the love

Kadang kita lihat layar ketersediaan kamar di rumah sakit keliatan hijau semua, tapi pas datang malah dibilang penuh. Kedengarannya ngeselin, tapi sebenarnya ada cerita panjang di balik itu. Rumah sakit nggak cuma soal “ada kasur atau enggak”, tapi soal keamanan dan aturan yang bikin semua pasien tetap aman dari risiko yang nggak kelihatan.

Penyakit infeksi kayak TBC, COVID-19, hepatitis, itu bukannya cuma butuh obat—mereka butuh ruang khusus biar nggak nyebar. Virus dan bakteri itu pintar, bisa numpang di udara, nempel di permukaan, atau ikut lewat cairan tubuh. Makanya rumah sakit wajib misahin pasien infeksi dari pasien yang sakit non-infeksi kayak stroke, jantung, atau diabetes. Kalau semua dicampur, bisa bahaya banget.

Masalahnya, ruang isolasi jumlahnya terbatas. Jadi walau di monitor ruang terlihat kosong, kalau yang kosong itu ruang non-infeksi dan pasien yang datang butuh isolasi, ya tetap nggak bisa dipakai. Ini kayak punya parkiran kosong tapi khusus motor, sementara yang datang mobil—tetap nggak match.

Belum lagi soal pemisahan jenis kelamin. Di ruang rawat inap, pasien laki-laki dan perempuan nggak bisa asal dicampur. Bukan soal ribet, tapi soal privasi, kenyamanan, dan etika. Banyak pasien datang dalam kondisi rapuh, kadang baru operasi atau butuh perawatan intens. Mereka butuh ruang yang bikin aman, bukan situasi yang bikin nggak nyaman.

Nah, aturan ini bikin tempat tidur kosong bisa jadi cuma “kosong di data”, tapi nggak bisa dipakai. Misalnya, ruangan yang kosong cuma buat perempuan, tapi pasien berikutnya laki-laki. Atau sebaliknya. Kamu lihat kasurnya ada, tapi sistem bilang “nggak bisa dipakai” karena nggak sesuai kategori.

Belum termasuk kondisi kamar yang sebenarnya belum siap pakai. Tempat tidur mungkin kosong, tapi masih dalam proses dibersihkan, disterilisasi, atau baru habis dipakai pasien infeksi sehingga butuh waktu sebelum aman buat orang lain. Di data terlihat available, tapi secara operasional belum layak.

Makanya sering muncul dilema: keluarga merasa kamar banyak, tapi petugas bilang penuh. Dua-duanya benar dari sudut pandangnya masing-masing. Kamar itu memang ada, tapi aturan medis nggak mengizinkan sembarang pasien masuk. Keselamatan pasien jauh lebih penting daripada sekadar mengisi ruang kosong.

Rumah sakit itu kayak puzzle besar, di mana setiap pasien harus ditempatkan di spot yang paling aman sesuai kondisi mereka. Ada perhitungan risiko, jenis penyakit, jenis kelamin, dan kesiapan ruangan. Jadi proses penempatan bukan sekadar “yang penting ada kasur”.

Di balik layar, ada tim yang terus bergerak nyari kecocokan terbaik biar tiap pasien dapat ruang yang aman. Kadang butuh waktu, kadang harus nunggu lama, tapi semua itu bukan karena malas atau birokrasi, tapi karena standar yang harus dipenuhi biar nggak ada risiko yang bikin keadaan makin parah.

Dan akhirnya, hal yang kelihatannya sepele kayak “kamar kosong” ternyata punya seribu cerita. Di dunia rumah sakit, kosong itu belum tentu benar-benar kosong. Kadang kosong itu justru bentuk perlindungan—agar semua pasien tetap aman, terjaga, dan nggak saling membahayakan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *