TERASING DI KANTOR

Spread the love

AKU NGGAK NYATU DI LINGKUNGAN KERJA… SEBENARNYA SIAPA YANG TOKSIK?

Ada masa ketika kita masuk kantor dengan langkah berat. Bukan karena kerjaannya sulit, tapi karena suasananya terasa asing. Kayak ada tembok tipis yang memisahkan kita dengan orang-orang di sekeliling. Kita hadir, tapi nggak benar-benar ada. Kita ikut rapat, tapi rasanya cuma numpang duduk. Kita mencoba ngobrol, tapi selalu terasa canggung.

Di kepala muncul pertanyaan yang bikin gelisah: “Aku yang salah atau mereka yang toksik?”

Masalahnya, dinamika sosial di tempat kerja nggak sesederhana memilih hitam atau putih. Ada sisi emosional, psikologis, bahkan biologis yang bikin seseorang merasa tidak nyatu — dan semuanya saling berkait satu sama lain.

Kadang kita merasa “nggak masuk” karena otak sedang berada dalam mode bertahan. Ketika stres, sistem saraf simpatis aktif dan membuat kita lebih sensitif pada tanda-tanda penolakan. Hal yang sebenarnya netral jadi terasa dingin. Komentar kecil terdengar sinis. Senyum orang tampak dipaksakan. Tubuh kita membaca ancaman yang belum tentu ada.

Tapi bisa juga masalahnya bukan di dalam diri — melainkan di dinamika lingkungan itu sendiri. Beberapa kantor punya budaya yang membuat orang merasa kecil: senioritas berlebihan, gosip merajalela, eksklusivitas kelompok, atau standar yang nggak jelas. Dalam situasi begitu, wajar kalau kita merasa nggak diterima. Lingkungan sosial yang tidak aman akan membuat siapa pun tampak “tidak menyatu”, bahkan orang paling ramah sekalipun.

Ada juga momen ketika kita masuk ke lingkungan yang sudah terbentuk lama. Grup-grup kecil sudah solid, kebiasaan komunikasi sudah mapan, bahasa candaan sudah punya pola. Di titik itu, bukan kamu yang toksik, tapi dinamika lama membuat pintu terlihat setengah tertutup. Butuh waktu dan kepedulian dua arah untuk membukanya.

Dan ada sisi lain yang jarang dibahas: kadang kita yang menghindar tanpa sadar. Karena takut disalahpahami, kita menjaga jarak. Karena takut dinilai, kita memilih diam. Karena pernah tersakiti di masa lalu, kita membangun benteng pelan-pelan. Bukan karena toksik, tapi karena hati sedang mencoba bertahan dengan cara yang ia tahu.

Yang membuat bingung adalah: lingkungan toksik dan pikiran yang kewalahan bisa terasa mirip. Keduanya membuat kita menjauh, keduanya membuat kita ingin pulang lebih cepat, dan keduanya membuat kita merasa tidak cocok. Makanya, perlu jujur pada diri sendiri — apakah kita tidak menyatu karena lingkungan memang keras, atau karena kita sedang rapuh?

Tanda lingkungan kerja toksik biasanya punya pola jelas: komunikasi penuh sindiran, penghargaan minim, gosip menjadi budaya, kesalahan diperlakukan seperti dosa, dan kebaikan orang dimanfaatkan tanpa batas. Jika beberapa hal ini muncul konsisten, besar kemungkinan masalahnya memang sistemik, bukan personal.

Tapi jika ketidaknyamanan kita muncul hanya di hari-hari tertentu, atau hanya saat kelelahan, atau hanya ketika pikiran sedang kalut, bisa jadi yang terjadi adalah distorsi persepsi — wajar, manusiawi, dan bisa pulih.

Yang penting, jangan buru-buru menunjuk siapa yang toksik. Kadang masalahnya bukan siapa, tapi apa. Apa yang dipikul, apa yang sedang ditakutkan, apa yang sedang disimpan, apa yang tidak diucapkan. Lingkungan kerja adalah gabungan pikiran-pikiran yang sama lelahnya, bukan medan perang antara “aku vs mereka”.

Kalau suatu hari kamu merasa tidak bisa menyatu, mungkin itu bukan tanda bahwa kamu salah tempat. Bisa jadi itu undangan untuk mengenal diri, membaca situasi lebih jernih, dan mencari posisi di mana kamu bisa tumbuh tanpa memaksakan diri menjadi versi yang bukan dirimu.

Pada akhirnya, bukan soal siapa yang toksik — tapi bagaimana kita menjaga diri tetap waras di tengah dinamika yang berubah tiap hari. Kadang lingkungan perlu berbenah. Kadang kita yang butuh jeda. Dan sering kali, keduanya benar.

—Catatan untuk sesama: jangan terburu-buru menyalahkan diri atau orang lain. Kadang yang kita butuhkan hanya ruang kecil untuk kembali bernapas dan melihat segalanya dengan mata yang lebih tenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *