“Takut Jadi Bahan Omongan? Tenang, Nggak Ada yang Segitu Penasarannya Sama Lo”

Spread the love

Lo pernah ngerasa deg-degan cuma karena takut diomongin? Padahal belum tentu ada yang ngomong, tapi otak lo udah bikin naskah film drama sosial tingkat dewa. Tenang, lo gak rusak. Itu sisa alarm biologis yang diwarisin dari masa prasejarah — sistem deteksi “ancaman sosial” yang dulu bisa nyelametin nenek moyang lo dari mati kedinginan sendirian di gua. Sekarang? Sistem itu cuma bikin lo panik gara-gara caption lo di-like sedikit.

Dalam psikologi evolusioner (Baumeister & Leary, 1995), manusia dikode sebagai makhluk sosial yang butuh diterima. Dulu, dikeluarin dari kelompok berarti risiko mati kelaparan. Mekanisme itulah yang bikin otak modern masih lebay tiap kali ngerasa diliatin. Social exclusion, kata Eisenberger (2012), bisa bikin aktivitas otak di area amigdala dan korteks cingulate anterior nyala kayak sirine. Artinya? Lo merasakan “sakit sosial” mirip rasa sakit fisik. Jadi, kalau lo ngerasa insecure gara-gara story lo gak ditanggapi — itu refleks neurologis, bukan kegalauan unfaedah.

Masalahnya, sistem kuno ini belum belajar adaptasi sama dunia penuh notifikasi. Amigdala lo tetap beroperasi pakai algoritma zaman batu: tiap sinyal “bahaya sosial” — entah tatapan kosong orang lain atau seen doang tanpa reply — dianggap ancaman eksistensial. Padahal, bisa aja orang itu cuma lagi buffering antara hidup dan gaji.

Psikologi kognitif nyebut fenomena ini sebagai spotlight effect (Gilovich, Medvec, & Savitsky, 2000): kita ngerasa semua orang merhatiin, padahal mereka sibuk mikirin diri sendiri. Iya, hidup lo bukan trending topic. Lo cuma protagonis di kepala lo sendiri. Ironisnya, makin lo takut digunjing, makin lo ngerasa penting. Dan itu, kata Leary (2010), justru bentuk narsisisme samar yang dibungkus kecemasan.

Tapi tenang, sains juga kasih jalan keluar. Penelitian Lieberman (2013) nunjukin bahwa labeling emotion — alias sadar dan ngakuin “gue lagi cemas” — bisa nurunin aktivitas amigdala. Otak rasional lo (korteks prefrontal) otomatis ngambil alih kendali. Simpelnya: makin lo jujur sama perasaan lo, makin cepet alarm otak lo berhenti bunyi.

Jadi ya, lo gak perlu pura-pura gak peduli sama omongan orang. Cukup tahu batasnya. Lo boleh aware, tapi jangan biarin suara kecil di kepala lo jadi sutradara hidup lo. Karena pada akhirnya, bukan orang lain yang bikin lo takut — tapi gema pikiran lo sendiri yang butuh diajak duduk santai, bukan dibungkam.

Dan kalau mau ditutup dengan logika ilmiah: social anxiety itu bukan kelemahan, tapi sisa mekanisme bertahan hidup yang belum di-update ke versi modern. Jadi, kalau lo overthinking, bukan berarti lo gagal jadi manusia—lo cuma masih terlalu setia sama software otak versi purba.

Catatan buat lo yang lagi berjuang pelan-pelan: jangan kasih bayangan opini orang lain ngegelapin cahaya yang lagi lo nyalain dari dalam. Biarkan sinar lo tumbuh tanpa izin siapa pun, karena penerangan sejati gak butuh validasi—cuma keberanian buat terus nyala meski terus disorot.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *