“Ngerasa Disindir di Sosmed? Tenang, Dunia Nggak Sepenting Itu Buat Muter di Sekitar Lo”

Spread the love

Lo pernah gak, lagi rebahan scroll TikTok atau Instagram, atau lagi gabut terus buka fitur liat SW—terus nemu satu status yang kayak banget sama kisah lo? Nadanya mirip, konteksnya pas, bahkan emoji-nya cocok sama mood pas lo ribut kemarin. Otak langsung bikin naskah sinetron: “Fix, ini nyindir gue.” Padahal bisa jadi—spoiler alert—nggak ada yang kepikiran tentang lo sama sekali.

Tenang, lo bukan korban halu. Lo cuma manusia. Otak kita emang dirancang buat nyari pola, bahkan di tempat yang gak ada polanya. Dalam psikologi kognitif, itu disebut personalization bias—kecenderungan ngira semua hal nyangkut ke diri sendiri (Beck, 1976). Bahasa kasarnya: dunia baru bersin sedikit, lo udah mikir itu kode semesta buat lo.

Fenomena ini makin parah di zaman sosmed, tempat tiap orang bebas tampil jadi filsuf digital dadakan. Algoritma cuma ngasih apa yang pengen lo lihat, dan lo pikir semesta konspirasi buat nyindir lo. Padahal, kata Turkle (2011), media sosial itu cermin bengkok: semua orang tampil dengan biasnya sendiri, dan lo cuma lagi ngelihat refleksi luka lo dari pantulan orang lain.

Lucunya, orang yang lo curigain nyindir lo mungkin juga lagi mikir orang lain nyindir dia. Siklus paranoia ini berjalan elegan di jagat maya: semua orang sibuk merasa jadi pusat sindiran, padahal gak ada yang benar-benar peduli. Kalau pun ada yang nyindir, ya udah—itu level communication avoidance klasik (Goffman, 1959): takut ngomong langsung, jadi larinya ke status pasif-agresif.

Tapi lo gak harus ikut menari dalam teater absurd ini. Kadang status yang nyentil itu bukan peluru, cuma gema dari hati yang belum sembuh. Kalau lo bereaksi berlebihan, mungkin karena lo sendiri belum beres berdamai sama isu di dalam. Dalam literatur psikodinamik (Freud, 1917)—iya, Freud yang itu—reaksi emosional yang berlebihan sering kali tanda dari projection: lo gak nyaman sama perasaan sendiri, jadi lo lempar ke luar biar lebih gampang disalahin.

Jadi sebelum lo ngetik “nggak usah nyindir di status, ngomong langsung aja”, coba jeda sebentar. Tanyain hal paling akademis tapi menohok: “Apakah ini masalah epistemik (pengetahuan gue yang terbatas), atau cuma bias kognitif yang kebanyakan drama?”

Karena kalau dipikir jernih, sebagian besar luka hati di internet bukan karena orang lain jahat. Tapi karena kita terlalu sibuk ngerasa jadi subplot di cerita orang lain, padahal mereka bahkan nggak nulis kita di naskahnya.

Kesimpulan ilmiahnya sederhana:

semakin lo tenang, semakin algoritma nyinyir dunia gak punya kuasa apa-apa.
Dan ketika lo udah berdamai sama diri sendiri, bahkan sindiran paling tajam pun cuma terdengar kayak bunyi notifikasi yang bisa lo mute kapan aja.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *