ANAK SEKARANG LEBIH NAKAL ?

Ketika Batas Hilang: Anak Muda, Gadget, dan Dunia yang Terlalu Cepat
Kadang dunia terasa kayak ngebut terlalu cepat. Sosial media jadi ruang nongkrong utama, dan handphone udah kayak kepanjangan tangan. Segalanya serba instan — termasuk dorongan, keputusan, dan… kesalahan.
Belakangan ini, kita sering dengar cerita tentang anak-anak sekolah yang kejebak dalam perilaku yang bikin orang dewasa geleng-geleng. Fenomena video beredar, tindakan yang nggak pantas, sampai aksi yang bikin nama sekolah ikut kebawa. Nggak satu, nggak dua. Kayak pola yang terus berulang.
Tapi kalau kita zoom out sedikit, bukan cuma soal “nakal” atau “bandel”. Ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Anak-anak kita tumbuh di zaman yang penuh tekanan tapi minim pendampingan emosional. Mereka dituntut dewasa di dunia digital, padahal secara mental masih berusaha ngerti siapa diri mereka sendiri.
Di balik kasus-kasus itu, ada anak yang mungkin cuma pengen diakui. Ada yang lagi nyari validasi, nyari perhatian, nyari tempat buat ngerasa “gue ada”. Dunia online kasih ruang itu — tapi juga jebakan. Sekali salah langkah, semua terekam, tersebar, dan nggak bisa ditarik balik.
Yang bikin miris, satu kesalahan bisa langsung ditempel jadi identitas.
Padahal mereka bukan monster — mereka hanya tumbuh di era yang jauh lebih ribut dari generasi kita dulu.
Sekolah seringkali kena getahnya. Nama lembaga tercoreng, padahal yang butuh dibantu bukan institusinya, tapi anak-anak yang masih belajar tentang batas, kontrol diri, dan konsekuensi. Kita sering lupa, di balik headline viral, ada remaja yang sebenernya butuh diarahkan, bukan dibantai habis-habisan.
Fenomena ini harusnya jadi wake up call:
bahwa pendidikan bukan cuma soal ranking, tapi soal membangun fondasi moral dan kesehatan mental.
Bahwa orang tua butuh hadir, bukan cuma menyediakan gadget.
Bahwa sekolah perlu jadi ruang aman, bukan sekadar tempat absen.
Generasi sekarang bukan rusak — mereka cuma kebingungan menghadapi dunia yang terlalu besar untuk usia mereka. Dan tugas kitanya adalah ngejagain batas, bukan ngehukum sampai hancur.
Pada akhirnya, kita semua pernah muda dan pernah salah. Bedanya, kesalahan kita dulu nggak viral. Maka lindungilah mereka, bukan membakar mereka. Karena masa depan mereka masih panjang, dan masih mungkin diperbaiki. ✨










