IKUTAN DIET YANG LAGI NGETREN: PUASA INTERMITEN 😎🥗

Spread the love

diet paling sehat adalah yang bikin lo damai, bukan yang bikin lo takut makan

Sekarang kayaknya semua orang ngomongin intermittent fasting (IF). Di TikTok rame banget yang pamer hasilnya: perut rata, kulit glowing, badan katanya lebih “enteng”. Nggak heran banyak yang pengen coba — tapi sebelum lo ikutan tren ini, yuk bahas dengan kepala dingin dan logika yang sehat.

Secara sains, puasa intermiten itu bukan diet “aneh”, tapi pola makan yang ngatur waktu makan dan puasa. Pola paling populer: 16:8 (puasa 16 jam, makan 8 jam), 18:6, atau 5:2 (dua hari “puasa ringan” dalam seminggu). Saat tubuh nggak dapet asupan kalori selama beberapa jam, sistem metabolisme beralih dari bakar glukosa ke bakar lemak — proses ini disebut metabolic switching. Itulah kenapa banyak yang akhirnya turun berat badan.

Tapi efek IF nggak cuma soal angka di timbangan. Penelitian (Longo & Panda, New England Journal of Medicine, 2020) nunjukin bahwa puasa intermiten bisa bantu turunin kadar gula darah, kurangin peradangan, dan bahkan ngeregenerasi sel lewat mekanisme yang disebut autophagy. Sounds cool, kan? Tapi…

Yang sering orang lupa: nggak semua tubuh cocok. Buat orang dengan maag, GERD, gangguan hormon (terutama perempuan), atau stres berat, IF malah bisa bikin kacau. Puasa panjang bisa memicu lonjakan asam lambung, bikin gampang marah, atau pusing karena gula darah drop. Apalagi kalau setelah “buka” lo malah balas dendam makan nasi padang plus dessert — ya gagal total. 😅

Triknya biar IF berhasil tanpa nyiksa diri:

  1. Mulai perlahan. Jangan langsung 16 jam kalau belum terbiasa, mulai dari 12:12 dulu.
  2. Tetep minum air putih banyak. Tubuh butuh hidrasi biar nggak pusing dan lemes.
  3. Pastikan makanan lo bernutrisi. Fokus ke protein, serat, lemak sehat — bukan gorengan.
  4. Tidur cukup. Kurang tidur bisa ganggu hormon lapar (ghrelin dan leptin).
  5. Jangan maksa kalau badan protes. Diet bukan kompetisi.

Intinya, puasa intermiten bisa bermanfaat kalau dilakukan dengan niat sehat, bukan panik karena tren. Setiap tubuh punya ritme dan kebutuhan sendiri — jadi jangan bandingin progres lo sama orang lain.

Kadang kita pengen “mengatur tubuh”, padahal yang perlu diatur dulu itu cara kita memperlakukan diri sendiri. IF bukan tentang menahan lapar, tapi belajar ngasih ruang buat tubuh istirahat dan sadar kapan dia benar-benar butuh makan. 🍃

Karena diet paling sehat adalah yang bikin lo damai, bukan yang bikin lo takut makan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *